Selasa, 23 Juli 2013

MEMBUAT KERUPUK TALAS BELITUNG

MEMBUAT KERUPUK LONTONGAN TALAS BELITUNG
Di Indonesia pada umumnya talas belitung (di beberapa daerah berlainan nama) banyak tumbuh liar di pinggir jalan, tempat pembuangan sampah, pinggir kebun, halaman rumah dan tempat lainnya yang kadang-kadang oleh petani dianggap sebagai tumbuhan gulma.

Sebenarnya jenis talas belitung memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber pangan kaya karbohidrat yang dapat menggantikan beras dalam rangka  penganekaragaman pangan non beras.
Talas belitung dapat dijadikan makanan camilan yang memungkinkan untuk disukai apabila di olah secara baik dengan mempertimbangkan tingkat kesukaan konsumen dan memiliki harga jual yang tinggi apabila pandai-pandai menempatkan segmen pasar yang dituju sesuai kualitas hasil produk.
Penomena kesukaan konsumen terhadap makanan siap saji yang didukung oleh tingkat pendapatan masyarakat yang semakin membaik, talas dapat diposisikan menjadi makanan yang dapat dipasarkan dengan sasaran konsumen kalangan menengah keatas.
Cara Membuat (satu kali adonan)
Bahan : 1. Talas belitung 4 kg
              2. Tepung tapioka 1 kg
              3. Air secukupnya
Bumbu : 1.  garam (secukupnya)
               2.  lombok (bila perlu)
               3.  penguat rasa (bawang putih atau vetsin)
Membuat :
1.  Cuci umbi talas belitung agar bersih dari kotoran dan sisa akar
2.  Rebus sampai masak, angkat dan kupas kulitnya
3.  Hancurkan sampai lumat (pakai ulekan atau gilingan lombok)
4.  Campur dengan tepung tapioka, tambahkan bumbu.
5.  Adon sampai kalis
6.  Masukkan adonan dalam kantong plastik kacang (plastik kecil) yang telah dipotong-
     potong 30 cm, kemudian ditusuk-tusuk pakai garpu makan secukupnya
7. Adonan dalam plastik kemudian direbus sampai masak
8. Angkat dan dinginkan semalaman agar rebusan adonan agak mengeras
9. Lepaskan plastik, kemudian rajang lontongan dengan menggunakan pisau yang tajam
    atau dapat menggunakan alat.
10.Susun hasil rajangan diatas tampah (nyiru), kemudian jemur diterik matahari
11.Setelah kering, goreng dalam minyak yang panas agar kerupuk mengembang
12. Selamat mencoba
Sumber : Hasil praktek sendiri

Selasa, 14 Mei 2013

TALAS BELITUNG

TALAS BELITUNG
Talas yang satu ini di setiap daerah memiliki nama yang berbeda (Jawa Barat : Talas Padang, Talas Belitung. Kalsel : Keladi Air), tetapi apapun namanya jenis talas ini memang punya prospek yang baik dalam jajaran makanan sumber karbohidrat yang kaya serat yang katanya dapat menghindari penyakit diabetes.
Anehnya, talas ini masih belum banyak dibudidayakan, bahkan di daerah wilayah jawa barat banyak petani mempersepsikan sebagai "makanan babi".  Padahal talas ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi loh !!! Coba kita hitung, kalau kita tanam talas jenis ini dengan jarak tanam 1 X 1,5 meter maka dalam 1 hektar lahan kering akan didapat populasi tanaman talas sekitar 7000 tanaman sedangkan menurut hasil survey lapangan, setiap pohon talas kimpul akan menghasilkan umbi talas sebanyak 5 - 35 kg.
Kalau kita merujuk ke referensi, talas ini akan menghasilkan umbi sebanyak 20 kg per pohon jadi dalam 1 hektar akan didapat 140 ton umbi dengan kisaran harga jual di tingkat petani Rp 1000,- sd. Rp. 1500,- (di pasar tradisional Rp. 2500 - Rp. 3000,-/kg) ini berarti kita akan meraup penerimaan kurang lebih sebesar Rp. 140.000.000,-/hektar. Pertanyaannya !! kenapa tidak anda tanam ?? malah dibiarkan tumbuh liar dan subur di pinggir-pinggir jalan, tempat sampah ?

Jumat, 14 September 2012

MEMBUAT "PEUYEUM BANDUNG"


MEMBUAT “PEUYEUM BANDUNG”

Ubi kayu merupakan jenis tanaman yang banyak dibudidayakan oleh petani baik di daerah dataran rendah maupun daerah dataran tinggi.
Sesuai dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi pengolahan hasil pertanian, ubi kayu dapat diolah menjadi beraneka ragam makanan olahan seperti  ;  Cake singkong, keripik (Kripsi), Getuk, opak, kerupuk, dll.
Rekayasa Teknologi fermentasi adalah teknologi pengolahan hasil dengan menggunakan mikroorganisme  yang dapat dilakukan pada komoditi ubi kayu atau beras ketan. 
Kuliner khas Bandung antara lain “Peuyeum Bandung” yaitu tape ubi kayu yang dalam penyajiannya dengan cara digantung, baik dalam etalase maupun diruangan bebas pada tempat pemajangan.  Tape Bandung adalah bahan makanan olahan melalui fermentasi yang berbahan baku dari ubi kayu dan penampilannya khas yaitu digantung dengan menggunakan tali rafia dalam pemasarannya.
Cara membuat tape gantung pada prinsipnya sama saja dengan cara membuat tape dari ubi kayu pada umumnya, akan tetapi ada hal-hal khusus yang perlu diperhatikan agar tape tersebut dapat digantung sehingga penampilannya menarik dan konsumen tertarik untuk membeli.
Tape Bandung yang berkualitas dapat dinilai dari segi warna, rasa, kekerasan, tekstur dan kemasamannya.  Tape yang baik dapat dilihat secara fisik, yaitu tampak padat dan empuk, berwarna putih kebiru-biruan, rasanya manis agak sedikit masam dan mengandung alkohol.

II.          MEMBUAT TAPE GANTUNG
1.      Alat dan Bahan
a.   Alat
·     Kompor/tungku
·     Panci besar  Φ minimal 75 cm
·     Baskom besar dan kecil
·     Kertas Koran
·     Pisau
·     Tampah
·     Tali rafia
b.  Bahan
·     Ubi kayu
·     Ragi tape
2.      Langkah-langkah pembuatan tape ubi kayu “gantung”
1)   Kupas ubi kayu sampai ke lapisan lendirnya, atau sedalam 2 mm-3 mm
2)   Cuci ubi kayu yang sudah dikupas hingga bersih
3)   Rebuslah  dalam panci perebusan selama ± 15 menit s/d 30 menit
4)   Setelah cukup matang, ubi kayu diangkat dari panci perebusan. 
5)   Lakukan pembersihan ulang agar ubi kayu benar-benar bersih dari lapisan lendir.
6)   Biarkan sampai benar-benar dingin, agar mikroorganisme inokulan  tidak mati.
7)   Bila sudah dingin, lumuri rebusan ubi kayu dengan ragi secara merata.
8)   Setelah selesai peragian, ubi kayu disusun dalam wadah pemeraman.
9)   Peramlah selama 8 jam – 12 jam agar terjadi proses fermentasi.
10)     Fermentasi jangan lebih dari 12 jam sebab tape akan terlalu masak.
11)     Selesai proses fermentasi, pasangkan tali pada ujung pangkal tape.
12)     Gantung pada lemari etalase atau tempat pemajangan yang dikehendaki.
13)     Bila digantung ditempat bebas, sarungkan plastik transparan sbg. Pelindung debu
14)     Tape akan bertahan pada gantungan selama ± 10-15 hari.
15)     Ketahanan tape saat dipajang tergantung kelembaban udara.
(Sumber : Dokumen Pribadi Hasil Survai Lapangan)